Dikadalin Iklan Komodo

Standard

Indonesia sedang berbahagia karena Taman Nasional Komodo masuk sebagai finalis ajang kontes populer New 7 Wonders (N7W) yang diadakan sebuah perusahaan lisensi dari Swiss. Padahal Taman Nasional Komodo sudah masuk world heritage-nya UNESCO.

Credo Komodo

Dalam perjalanannya, proses pemilihan kontes lewat voting ini berjalan penuh liku-liku, salah satunya adalah dengan pihak panitia N7W itu sendiri. Sejak Taman Nasional Komodo masuk sebagai finalis, Indonesia ditawarkan menjadi tuan rumah acara malam final N7W. Saat itu MenBudPar Jero Wacik punya semangat yang tinggi untuk memajukan Pulau Komodo ke kancah wisata Internasional. Namun terjadi miskomunikasi antara panitia dengan pihak budpar, N7W meminta dana-dana tambahan yang sangat besar yang musti dikeluarkan Indonesia berkaitan dengan posisinya sebagai tuan rumah malam final N7W, jelas dana-dana tambahan ratusan ribu US$ itu ditolak mentah-mentah. Penolakan ini berujung pada ancaman akan didiskualifikasikannya Pulau Komodo sebagai finalis. N7W pun sempat menuntut budpar ke pengadilan karena dianggap membatalkan perjanjian sepihak. Pihak Budpar tidak gentar, mereka dengan tim pengacara siap menghadapi gugatan pihak N7W. Karena kisruh ini maka posisi Pulau Komodo sebagai finalis N7W pun menjadi gantung. N7W mengancam akan mencabut Pulau Komodo sebagai finalis New 7 Wonders.
Hingga tahun 2011 posisi Pulau Komodo sebagai finalis ternyata belum juga dicabut oleh N7W, malahan pihak N7W kini memiliki panitia lokal di Indonesia sebagai panitia pendukung pemenangangan Pulau Komodo. Tidak tanggung-tanggung panitia ini pun menggalang dukungan penuh yang besar sebagai sebuah konsorsium. Melibatkan dari banyak pihak, mulai dari selebriti, stasiun TV, media, bahkan mantan wakil presiden Jusuf Kalla berdiri di depan menjadi ambassador pemenangan Pulau Komodo untuk N7W ini.

Promo Vote Komodo

Sebagai sebuah konsorsium bisnis lisensi maka kampanye mendukung Pulau Komodo dilakukan dengan model iklan yang besar pula. Iklan untuk vote Pulau Komodo ini dilakukan dengan sebuah metode kampanye yang intensif, apalagi memasuki masa-masa akhir voting yaitu bulan November 2011.
Namun yang menjadi kontroversi dalam kampanye ini adalah ketika kampanye dukungan Pulau Komodo dianggap sudah menyalahi etika sebagai iklan, yaitu menggunakan pesan-pesan yang ambigu dan makna berlapis. Pola pesan-pesan ambigu dalam iklan memang sering terjadi, terutama iklan-iklan kontes atau sayembara. Janji-janji iklan sayembara tentu menjual keberuntungan agar publik mau ikutan sayembara tersebut. Janji-janji dalam iklan sayembara diracik oleh para pengiklan sedemikian rupa agar nampak kemungkinan peluang kemenangan sangat dekat dengan publik yang mengikuti sayembara.

Namun dibalik semua peluang dan janji-janji dari iklan sayembara, tentu ada syarat-syarat ketat yang terkait dengan sayembara hingga diujung keterlibatan publik sebagai peserta, kemungkinan pemenangan sangat sulit bahkan publik pun akhirnya sering merasa terjebak dengan iklan-iklan sayembara tersebut.

Ini terjadi pada iklan dukungan pemilihan Pulau Komodo sebagai pemenang New 7 Wonders. Dukungan voting Pulau Komodo jelas-jelas hanya bentuk permainan dan sayembara lisensi wisata milik perusahaan New 7 Wonders dari Swiss. Yang mana pemenang dari acara N7W ini akan meraih sertifikat New 7 Wonders. Sertifikat dan lisensi-nya jelas milik perusahaan Swiss tadi. Contoh sederhananya adalah lembaga Miss Universe atau Miss World dan seterusnya. Mereka menggelar acara kelas dunia lalu meminta dukungan dari warga negara-negara kandidat, jika sudah menentukan pemenangnya, maka si “miss” tadi akan masuk kontrak dari lembaga tadi. Miss Universe akan mengunjungi daerah-daerah dan negara-negara untuk sebuah tur berbayar, jika masuk iklan brand atau produk pun tentu musti membayar lisensi. Begitulah bisnis lisensi dari acara-acara tersebut, termasuk acara pemilihan New 7 Wonders ini.

Kelak, jika Pulau Komodo memenangkan titel New 7 Wonders ini tentu Indonesia akan memanfaatkan kemenangan ini sebagai materi promosi pariwisata Indonesia. Semua materi promo yang mencantumkan New 7 Wonders tentu harus membayar lisensi kepada New 7 Wonders sebagai pemilik sertifikan New 7 Wonders. Apakah ini salah? jelas tidak, karena begitulah model bisnis popular vote dan lisensi. Hal ini mirip dengan acara Indonesian Idol. Pemenangnya tentu akan terikat kontrak panjang dan “dijual” oleh pihak Indonesian Idol hingga masa kontrak habis. Uang yang diperoleh dari Indonesian Idol pun kemudian musti dibayarkan ke pemilik brand pusat yaitu American Idol.

Bentuk iklan kampanye Komodo inilah yang kemudian menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Bangsa Indonesia sedang gencar ditantang rasa nasionalisme-nya untuk mendukung sebuah ajang “seru-seruan” belaka. Tidak ada kaitannya dengan dukungan perjuangan nasionalisme yang sesungguhnya seperti pada timnas atau atlet Sea Games. Dukungan kemenangan Pulau Komodo diarahkan kepada rasa cinta bangsa ini terhadap nilai Komodo yang sangat unik milik Indonesia. Janji pelestarian pun digunakan dalam iklan dukungan komodo ini. Padahal publik sudah rancu untuk mengerti bahwa kampanye dukungan ini hanyalah dukungan KOMERSIALISASI bukan dukungan KONSERVASI dari Pulau Komodo.
Dalam sebuah halaman iklan SMS dukung Komodo ini tertulis:
“Hanya dengan Rp. 1, satu sumbangsih suara Anda dapat memberi nafas panjang bagi kehidupan Komodo, sekaligus penghormatan untuk Indonesia tercinta!”
Janji bahwa satu rupiah dapat memberi nafas panjang bagi kehidupan Komodo jelas merupakan pernyataan konservasi. Apakah ini janji yang akan dipenuhi oleh pihal N7W? Lalu kalimat berikutnya: sekaligus penghormatan untuk Indonesia tercinta, merupakan pernyataan tantangan rasa nasionalisme kepada publik. Belakangan kampanye dukung SMS baru dengan kalimat: KINI SMS GRATIS. Ini pun musti dikaji apakah dengan gratis ini maka pulsa SMS kita tidak dipotong dalam mengirimkan SMS dukungan? Telco provider yang musti menjelaskan ini.
Bangsa ini sedang krtisi dengan yang namanya rasa nasionalisme, nampaknya ini yang menjadi sentilan jitu untuk iklan sayembara dukungan Pulau Komodo ini. Apakah ini salah? atau menyalahi aturan etika periklanan? Saya rasa teman-teman di dunia periklananlah yang mampu mengkaji dan menjawab ini semua.
Bangsa ini punya cita-cita besar untuk Pulau Komodo dan Komodo-nya. Kecintaan itu sangat nampak jelas dari respon publik atas sayembara ini. Ini bukti nyata yang sangat bisa dijadikan modal bagi pemerintah dalam meningkatkan pariwisata dan dukungan konservasi Pulau Komodo atau tempat-tempat wisata lainnya. Sayangnya kejelian potensi ini justru ada pada
pihak asing yang mengambil keuntungan dari rasa cinta dan nasionalisme atas Pulau Komodo.

Komodo Pemersatu

Satu hal lagi, bangsa ini sedang mengalami krisis perpecahan. Pemerintah dengan partai-partainya sedang memecah belah pandangan kebersatuan bangsa ini. Kerinduan rasa bersatu bangsa dapat terlihat jelas dengan fenomena timnas sepak bola Indonesia. Ketika semua partai beramai-ramai mengibarkan panji berwarna-warni dengan janji-janji mereka lebih baik dari partai lain, bangsa ini cukup menghadap ke arah yang sama dan mengibarkan warna yang sama yaitu merah-putih. Bangsa ini sudah lelah dengan perpecahan dan rindu dengan pesatuan. Timnas sepak bola adalah air segar yang menyatukan bangsa ini.

Kemunculan kampanye dukungan Pulau Komodo tentu lebih menjadi tantangan bagi rasa nasionalisme bangsa ini. Ketika timnas sepak bola hanya bisa tingkat Asia, Komodo hadir dengan tantangan kelas dunia. Wajar jika akhirnya dukungan yang diberikan bangsa ini sangatlah besar, tulus, dan penuh kebanggaan. Kemenangan Komodo tentu akan jadi sorak-sorai yang mengharukan bagi bangsa ini… Semoga jangan sampai semangat ini dimanfaatkan untuk hal-hal untuk komersil saja.
Semoga semangat kebersatuan ini tetap nyala dan nyata.. Saya sangat percaya dibalik semua perbedaan pandangan dari acara sayembara ini, kita semua bangsa Indonesia berdiri dan menghadap ke arah yang sama, bahwa mereka cinta Indonesia…

sumber asli : http://motulz.blogdetik.com/2011/10/28/dikadalin-iklan-komodo/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s