Mencegah Kepunahan Bahasa Daerah

Standard

Sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedang puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini juga terancam punah. Temuan ini didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi.

Menurut Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Dendy Sugono, sepuluh bahasa daerah yang telah punah itu berada di Indonesia bagian timur, yakni di Papua sebanyak sembilan bahasa dan di Maluku Utara satu bahasa.

“Data yang kita kumpulkan dari akademisi perguruan tinggi menyebutkan ada 10 bahasa daerah yang telah punah. Lalu yang terancam punah ada 33 tersebar di Papua sebanyak 32 dan Maluku Utara satu bahasa,” tandas Dendy saat berbicara pada Kongres Linguistik Nasional XII di Hotel Sahid Solo yang berlangsung dari tanggal 3-6 September.

Sementara itu, pakar bahasa dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof Dr H Edi Subroto, menyatakan, dari hasil penelitian yang dilakukan Jurusan Bahasa UNS menyebutkan, bahasa daerah yang terancam punah bisa mencapai 700 bahasa. “Dari hasil penelitian kami, jumlah bahasa daerah yang rawan punah sangat banyak. Sedikitnya 700 bahasa daerah bisa punah dalam waktu sesaat jika tidak ada upaya untuk merawatnya,” ungkapnya.

Salah satu penyebab lunturnya bahasa daerah, lanjut Edi, adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Mereka juga enggan untuk menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian.

Pakar bahasa dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Asim Gunarwan, memprediksikan untuk kepunahan sebuah bahasa berlangsung cukup lama, yakni sekitar 75-100 tahun atau tiga generasi. Ia juga melihat adanya potensi punahnya bahasa Jawa, bahasa Lampung dan bahasa Bali.

Asim mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Ia mencontohkan bahasa Ibrani yang dulu hampir punah. Namun karena adanya vitalitas yang tinggi untuk menghidupkan kembali bahasa Ibrani, maka bahasa tersebut kini menjadi bahasa nasional.

Kedua, kata Asim, adalah faktor biaya dan keuntungan. Selama ini kecenderungan orang belajar bahasa adalah karena faktor berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang diperoleh kelak.

Ia menyebut, orang rela belajar bahasa Inggris dengan biaya mahal karena ada keuntungan yang diperoleh kelak. Maka perlu adanya upaya pembalikan pergeseran bahasa. Langkahnya tak cukup dengan pengajaran bahasa yang selama ini dilakukan di instansi-instansi pendidikan. Caranya dengan menumbuhkan kesadaran dan menjadikan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi keseharian.

Kondisi mulai menghilangnya pengguna bahasa daerah setempat, ternyata turut memberikan keprihatinan dan kekhawatiran tersendiri bagi para tenaga pendidik atau guru. Contohnya saja seperti yang terjadi dengan para tenaga pendidik atau guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Propinsi Aceh.

Kepala Sekolah SMP Negeri 19 Percontohan Banda Aceh, Farida Ibrahim mengungkapkan, sebagian besar anak didiknya saat ini tidak memahami bahasa Aceh. Bahkan dalam mengikuti ektrakurikuler, para siswanya justru sangat tertarik dengan mengikuti English Club. Alhasil, dalam pergaulannya sehari-hari, lanjut Farida -sapaan akrab Farida Ibrahim, anak-anak didiknya cenderung lebih menggunakan bahasa Indonesia melayu dan bahasa inggris.

Selain itu, Farida juga mengungkapkan bahwa rata-rata orang tua di perkotaan jarang mengajarkan bahasa tersebut kepada anak-anaknya. Apalagi, lanjut Farida, kota Banda Aceh sendiri sudah dipenuhi oleh pendatang. Sehingga, kekuatan bahasa Aceh secara perlahan luntur dengan sendinya. “Faktor lain, di sekolah-sekolah yang terdapat di Aceh ini adalah minimnya guru yang mampu mengajarkan bahasa Aceh dengan baik dan benar,” ungkapnya.

Sementara itu, kekhawatiran tersebut tidak hanya dirasakan oleh Farida, tetapi juga Kepala Sekolah SD Negeri 67 Percontohan Banda Aceh, Deni Hayati. Deni juga mengakui bahwa sebagian besar anak didiknya tersebut tidak mengerti bahasa Aceh.

Sebagai langkah awal untuk mengantisipasi lunturnya bahasa daerah propinsi Serambi Mekkah tersebut, para guru kadang kala sedikit demi sedikit mengucapkan istilah dengan menggunakan bahasa Aceh ketika berkomunikasi dengan para siswa di kelas. “Cara ini cukup efektif, dan hasilnya sebagian dari mereka akhirnya dapat mengerti dan memhami arti bahasa Aceh meskipun masih beberapa siswa saja yang memahami bahasa Aceh,” ujarnya.

Hal lainnya juga dilakukan di SMA Labschool Unsyiah Banda Aceh. Setiap harinya para siswa mendapatkan jadwal rutin untuk menyampaikan kultum singkat pada setiap setelah sholat Zuhur. Isi yang disampaikan harus menggunakan 4 bahasa di setiap minggunya. Yaitu bahasa Arab, Inggris, Indonesia dan bahasa Aceh. Hal ini diungkapkan guru koordinator pelaksanaan kultum siswa, Rahmat Nazli mengingat bahasa Aceh dikabarkan akan punah.

“Setiap harinya siswa wajib menyampaikan kultum sesuai dengan jadwal yang elah ditentukan. Dan di setiap minggunya kultum yang disampaikan harus menggunakan 4 bahasa, Inggris, Arab, Indonesia dan juga bahasa Aceh. Mengingat bahasa Aceh dikabarkan akan segera punah. Jikalau tidak kita lestarikan bersama sejak saat ini maka siapa lagi yang akan menyelamatkan bahasa leluhur nenek moyang kita ini” tutur Rahmat.

Penggunaan bahasa daerah selain sebagai identitas diri, juga menekankan budi pekerti karena di dalamnya, para pemuda diberi pendidikan, untuk bagaimana bisa menghargai baik kepada satu tingkatan maupun mereka yang lebih tua.

Mari mulai saat ini juga kita para pemuda-pemudi untuk terus dapat menjaga bahasa daerah kita masing-masing agar dapat terus terjaga dan dapat terwariskan kepada anak cucu kita kedepannya. (Kompas/TGJ.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s