Korupsi dan Indonesia

Standard
foto: ping.indah.web.id

Korupsi, siapa yang tak pernah mendengar kata itu. Di Indonesia, kata korupsi hampir setiap hari terdengar ada pemberitaannya baik di televisi maupun koran. Menurut Wikipedia Indonesia, korupsi dalam bahasa latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat mengartikan korupsi sebagai pengambilan hak yang bukan menjadi haknya, penggelapan, perampasan hak orang lain, dan juga mencakup suap-menyuap atau sogok-menyogok. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi didefinisikan “penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan, dan sebagainya untuk keperluan pribadi”. Sedangkan dalam undang-undang No. 20 tahun 2001 dapat diambil pengertian bahwa korupsi adalah “Tindakan melanggar hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang berakibat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara”.

Menurut survei yang dirilis Transparency International (TI) dengan dengan skor 0 dianggap sebagai yang terkorup dan angka 10 adalah yang paling bersih, negeri kita Indonesia pada tahun 2011 memperoleh skor 3,0, naik 0,2 poin dari tahun 2010 yang memperoleh skor 2,8. Meski mengalami peningkatan, Indonesia masih berada di deretan negara-negara terkorup di dunia saat ini. Di tingkat Asean, Indonesia masih dibawah Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand.

Tanpa kita sadari korupsi saat ini tidak hanya identik dengan pejabat dan pengusaha semata, melainkan ditengah-tengah berkehidupan sehari-hari masyarakat saat ini korupsi pun sudah ‘berbaur’ bersama kita. Ingin instan tanpa harus berurusan panjang hanya dengan bermodalkan amplop yang berisikan sejumlah uang, uang ‘rokok’, uang ‘lelah’, pajak ‘nanggroe’ (pajak ‘negeri’ -red) merupakan contoh kecil praktek korupsi di kehidupan masyarakat saat ini yang tanpa kita sadari menyelinap menjadi darah daging yang menjadi bagian dari tubuh kita. Kebanyakan berpandangan bahwa hal tersebut sudah biasa dan sudah menjadi budaya saat ini. 

Yang lebih membahayakan lagi ialah saat dimana praktek-praktek korupsi kini telah mulai ‘mewabah’ kepada generasi muda yang akan meneruskan perjuangan hidup bangsa ini. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebuah lembaga pemberantasan korupsi di Indonesia beberapa waktu lalu telah meluncurkan film yang bersifat edukasi mengenai risiko dan dampak dari korupsi serta mengupayakan penambah nilai-nilai integritas kepada masyarakat yang berjudul Kita VS Korupsi. Film tersebut terbagi atas empat segmen dengan cerita dan sutradara berbeda. Dan pada segmen terakhir dengan judul Pssst … Jangan Bilang Siapa Siapa”, terlihat praktek nyata korupsi di kalangan genarsi muda yaitu di lingkungan sekolah yang di ‘dalangi’ oleh para pendidik dan juga pemimpin yaitu guru dan kepala sekolah. Itulah gambaran umum korupsi di negeri ini dimana di suatu lingkungan telah terdapat rantai kejahatan korupsi yang sangat mengancam generasi muda saat ini dan saat mendatang.

Adapun penyebab dari tindakan korupsi ialah: adanya nafsu atau ingin mempunyai ‘lebih’, kurangnya pemahaman terhadap nilai moral dan agama, gaji yang tidak memadai, lemahnya peraturan atau hukum, birokrasi yang panjang dan berliku, serta lemahnya kontrol soaial dan budaya terhadap pelaku korupsi; seperti contohnya penanganan hukum terhadap maling buah yang lebih cepat diproses hukumnya daripada koruptor.

Akibat yang ditimbulkan dari korupsi pun sangat besar. Efek dari korupsi sangat berbahaya bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik itu dari segi politik, sosial, budaya, ekonomi dan juga birokrasi. Korupsi juga akan menimbulkan rasa individualisme dan egoisme yang tinggi serta menimbulkan perbedaan yang sangat menyolok antara si kaya dan si miskin. Yang paling terpenting adalah akibat yang ditimbulkan korupsi yang berdampak kepada generasi penerus. Korupsi sangat berbahaya bagi standar moral di masyarakat dimana saat mereka menganggap perbuatan korupsi merupakan perbuatan yang lumrah dan merupakan suatu hal yang biasa.

Korupsi yang mungkin telah menjadi budaya di negeri ini sangatlah membahayakan masa depan bangsa, terutama jika korupsi itu telah mulai ‘berbaur’ dengan para generasi penerus. Korupsi di Indonesia tidaklah hanya semata menjadi tanggung jawan KPK. Melihat besarnya dampak akibat yang disebabkan oleh kasus korupsi, maka diperlukan suatu sistem yang mampu menyadarkan semua elemen bangsa untuk sama-sama bergerak mengikis karang korupsi yang telah menggurita.

Olehkarena itu, alangkah baiknya jika tindakan pencegahan korupsi tidak hanya dilakukan dalam ranah hukum saja. Dalam wilayah budaya misalnya. Karena cuma dari sisi ini kita bisa mengenali budaya tersebut. Kemudian merencanakan satu strategi budaya guna memupuskan korupsi. Di dalam budaya pun terdapat berbagai hal, diantaranya adalah agama dan pendidikan. Dalam bidang agama kita perlu dan mendesak untuk merumuskan teologi anti-korupsi. Di bidang pendidikan, kita perlu menumbuhkan kesadaran akan bahaya korupsi bagi kelangsungan berbangsa.

Diperlukan sebuah sistem pendidikan anti korupsi yang berisi tentang sosialisasi bentuk-bentuk korupsi, cara pencegahan dan pelaporan serta pengawasan terhadap tindak pidana korupsi. Pendidikan seperti ini harus ditanamkan secara terpadu mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan anti korupsi ini akan berpengaruh pada perkembangan psikologis para generasi penerus.

Dengan adanya pendidikan anti korupsi ini, diharapkan akan lahir generasi tanpa korupsi sehingga dimasa yang akan datang akan tercipta Indonesia yang bebas dari korupsi. Harapan awal tentunya ini akan berdampak langsung pada lingkungan sekolah yaitu pada semua elemen pendidikan, seperti kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa. Lingkungan sekolah akan menjadi pioneer bagi pemberantasan korupsi dan akan merembes ke semua aspek kehidupan bangsa demi mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s