Pendidikan di Negeri Indonesia

Standard

Jam sudah menunjukkan pukul 13 Waktu Indonesia bagian Barat. Jam istirahat makan siang pun tiba. Saat itu bertepatan dengan hari Selasa, 23 Oktober. Seperti biasanya, makan siang saya hari ini ditemani dengan siarann berita di salah satu stasiun televisi swasta. Headline atau berita utama seperti biasa sudah dapat ditebak sebelumnya, ya kalau tidak masalah korupsi, politik, maupun terorisme. Isu-isu nasional tidak jauh dari topik-topik tersebut.

Singkat cerita, sebuah berita pun terlontarkan dari salah satu presenter berita yang membuat hati dan perasaan orang yang mendengarnya menjadi miris. “Ratusan siswa di sebuah sekolah dasar terpaksa belajar di lapangan terbuka dengan tenda yang dibangun seadanya. Sekolah ini selama bertahun-tahun hanya memiliki tiga ruang kelas. Seluruh siswa dari kelas satu hingga kelas enam terpaksa belajar di tenda. Proses belajar pun tidak maksimal karena tidak ada pembatas antarkelas. …. .” Itulah penggalan inti dari pemberitaan tersebut dan merupakan sedikit potret permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini ditengah anggaran pendidikan yang mencapai Rp 14 triliun untuk setiap tahunnya.

Permasalahan penunjang pendidikan di Indonesia tidak hanya itu saja. Beragam persoalan mulai dari kualitas infrastruktur, kualitas kurikulum, dan juga kualitas guru pengajar yang belum sesuai merupakan hal pokok permasalahan yang paling utama saat ini. Baru-baru ini permasalahan baru muncul dimana para pelajar kerap melakukan tawuran hingga berujung kematian oleh para pelajar itu sendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dalam pengertiannya secara umum, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (wikipedia). Pada hakekatnya fungsi pendidikan menurut Undang–Undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia. Siswa sebagai subjek belajar, memiliki potensi dan karakteristik unik, sangat menentukan keberhasilan pendidikan.

Untuk menghasilkan siswa yang berkualitas dan berprestasi, perlu adanya optimalisasi seluruh unsur, yaitu mulai dari siswa itu sendiri, keluarga, lingkungan pembelajaran/sekolah dan juga pengajar atau guru. Tugas guru membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi, tetapi justru siswa yang aktif mencari informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Guru juga dapat mengembangkan iklim komunikasi di kelas selama pembelajaran berlangsung. Iklim komunikasi yang dimaksud adalah adanya umpan balik interaktif antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, siswa akan mampu memberikan respon balik 2 terhadap materi pembelajaran secara aktif, tidak harus menunggu informasi dari guru.

Secara umum, kualitas guru dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini, dari 2,92 juta guru, baru sekitar 51 persen yang berpendidikan S-1 atau lebih, sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1. Begitu pun dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5 persen guru yang memenuhi syarat sertifikasi. Adapun 861.67 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi, yakni sertifikat yang menunjukkan guru tersebut profesional (kompas: 2012).

Kualitas pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan analisa dari badan pendidikan dunia (UNESCO), kualitas para guru Indonesia menempati peringkat terakhir dari 14 negara berkembang di Asia Pacifik. Posisi tersebut menempatkan negeri kita ini dibawah Vietnam yang negaranya baru merdeka beberapa tahun lalu. Sedangkan untuk kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Lemahnya input quality, kualitas guru kita ada diperingkat 14 dari 14 negara berkembang.

Sadar atau tidak, kita semua pasti menyadari bahwa dunia pendidikan di negeri kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”. Dunia pendidikan yang “sakit” ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia seutuhnya, tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu. Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada.

Masalah pertama adalah bahwa pendidikan, khususnya di Indonesia, menghasilkan “manusia robot”. Mengapa demikian ? Karena, pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang. Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang, yang terjadi adalah diintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berfikir. Sebab ketika seseorang sedang belajar, maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan sebagainya.

Masalah selanjutnya adalah sistem pendidikan yang top-down atau dari atas ke bawah. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan karena para peserta didik yang dalam hal ini murid dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Guru sebagai pengisi dan murid sebagai yang diisi. Otak murid dipandang sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari guru ditransfer kedalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang disampaikan guru. Jadi hubungannya adalah guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek. Model pendidikan ini tidak membebaskan karena sangat ‘menindas’ para murid.

Beragam faktor yang mungkin bisa kita uraikan yang mengakibatkan buruknya kualitas pendidikan di Indonesia ialah:

          1. Rendahnya Kualitas Guru

Kebanyakan guru di Indonesia belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu, merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Seperti pada tulisan di atas sebelumnya, menurut pemberitaan kompas yang dilansir 7 Maret 2012 silam, dari sisi kualifikasi pendidikan, hingga saat ini, dari 2,92 juta guru, baru sekitar 51 persen yang berpendidikan S-1 atau lebih, sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1. Begitu pun dari persyaratan sertifikasi, hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5 persen guru yang memenuhi syarat sertifikasi. Adapun 861.67 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi, yakni sertifikat yang menunjukkan guru tersebut profesional. Selain jenjang pendidikan yang belum memadai, kompetensi guru juga masih bermasalah. Saat dilakukan tes terhadap guru semua bidang studi, rata-rata tak sampai 50 persen soal yang bisa dikerjakan. Tidak ada guru yang meraih nilai 80. Bahkan, ada guru yang meraih nilai terendah, 1😦.

Meskipun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan, tetapi pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi. Sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

          2. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan pendapatan yang rendah, terang saja banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.

Ifadah Assolikhiyyah (35), guru honorer, mengajar para siswa SD Batu 2, Desa Batu, Kecamatan Karangtengah, Demak, Jawa Tengah, Minimnya honor, sebesar Rp 100.000 per bulan, menyebabkan ibu dua anak ini juga membuka jasa merias pengantin di rumahnya untuk menambah pendapatan

         3. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk masalah sarana fisik adalah hal yang mungkin masih banyak dijumpaai di berbagai sekolah saat ini. Banyak sekali sekolah yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Sekolah yang rusak dan sangat memprihatinkan karena suatu saat bisa melukai para siswa saat proses belajar berlangsung

          4. Arah Kurikulum Yang Belum Jelas

Kurikulum pendidikan suatu bangsa semestinya terkait dan selaras dengan arah pembangunan nasional. Saat ini, arah pembangunan nasional tidak jelas sehingga arah kurikulum pendidikan untuk mencetak manusia unggul juga tidak jelas. Tanpa kejelasan arah pembangunan bangsa, kurikulum pendidikan menjadi kabur, bisa dijejali berbagai materi pelajaran yang tak penting, bahkan bisa disisipi kepentingan politik sesaat.

Kurikulum yang berlaku saat ini perlu disederhanakan karena mata pelajaran yang diberikan kepada siswa terlalu banyak. Pendidikan dasar seharusnya dipusatkan pada baca-tulis-hitung, ditambah Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan khusus di daerah tertentu ditambah dengan Bahasa Inggris. Saat menginjak tingkat SMA/SMK barulah materi ditambah dengan sejarah dunia dan keterampilan dasar abad ke-21 saat ini, seperti komputer dan lainnya.

Saat ini kurikulum di Indonesia sejak jenjang SD hingga Perguruan Tinggi masih kurang bisa menjawab permasalahan yang dihadapi bangsa, yaitu masalah karakter. Pendidikan karakter dianggap sangat penting karena kini mulai menipisnya rasa solidaritas, saling menyayangi, hormat menghormati antar warga negara. Kondisi tersebut otomatis akan bermuara pada kehidupan masyarakat. Buktinya, saat ini mulai marak terjadi kekerasan yang mengatasnamakan geng motor, tawuran pelajar serta warga dan sebagainya.

          5. Mahalnya Biaya Pendidikan 

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah.

Pungutan yang terjadi di sekolah dan perguruan tinggi tetap ada, dan jumlahnya cenderung meningkat hampir di setiap tahunnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kenaikan anggaran pendidikan nasional setiap tahunnya. Untuk tahun 2012 saja  mencapai Rp 286,6 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan anggaran tahun sebelumnya, Rp 266,9 triliun (kompas: 2012). Pemerintah setiap tahunnya menaikkan anggaran untuk bidang pendidikan. Namun, kemanakah dana itu semua jika kita bandingkan dengan mutu pendidikan Indonesia yang belum meningkat hingga saat ini ?

Hanya Tuhan yang mengetahui ini semua🙂

Tulisan ini dipelombakan pada: Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s