Bocah SD Tewas Dianiaya Kakak Kelas, Salah Siapa ?

Standard
Belakangan ini berita yang beredar di masyarakat yang deras sederas-derasnya di berbagai media ialah mengenai pemilu dan kekerasan seksual terhadap anak. Muncul setiap saat melebihi ketentuan minum obat 3x sehari update terkini mengenai perkembangan terhadap penegakan hukum bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak di salah satu sekolah internasional tingkat PAUD / Playgroup di Jakarta. Selanjutnya muncul perkembangan bahwa gembong Child Predators yang menjadi buronan Federal Bureau of Investigation alias FBI pernah mengajar di sekolah internasional tersebut. Berminggu-minggu setiap harinya seluruh media terus menerbitkan perkembangan terkini berita pelecehan seksual terhadap anak tersebut ke permukaan. 

Beberapa hari terakhir ini kembali muncul kasus baru dengan “tema” yang sama, yaitu pelecehan seksual atau bagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyebutnya dengan pelecehan kemanusiaan karena menurutnya ini sebutan yang sangat tepat karena telah melebihi kriminal yang mengatas namakan pelecehan seksual. Kali ini dengan jumlah korban yang mencapai 50an anak terjadi di Sukabumi, Jawa Barat.

Terlepas dari masalah kasus pelecehan seksual terhadap anak, hari ini Minggu (4/5) muncul berita terkini yang masih terpau dengan anak-anak, yaitu terjadi di ibukota tepatnya di wilayah Jakarta Timur. Seorang anak SD sekitar kelas 4 tewas dianiaya kakak kelasnya sendiri yang juga masih berstatus siswa SD akibat masalah yang sepele. Korban tidak sengaja menyenggol makanan kakak kelasnya yang seharga 1000 rupiah hingga terjatuh. Kemudian korban telah menggantinya. Namun entah apa yang membuat kakak kelasnya tersebut tak terima maaf dan ganti rugi dari korban tersebut akhirnya bersama teman-teman lainnya ia “mengeroyoki” sang korban hingga harus dibawa ke rumah sakit. Namun ternyata Yang Maha Kuasa berkehendak lain, sang korban meninggal dunia. 

Semakin banyaknya kasus kriminal yang mengatasnamakan bocah atau anak-anak belakangan ini, pertanyaanya siapa yang salah ?

Dari tiga kasus yang saya jabarkan diatas, kasus terakhir yang membuat saya tertarik untuk menganalisisnya. 

Siswa SD yang notabennya masih baru mengenal dunia dan tak tau apa itu kekerasan, mungkin yang mereka tau hanyalah candaan atau pelampiasan kekesalan semata tidak sampai menghabiskan nyawa seseorang. Mungkin akibat pesatnya perkembangan teknologi saat ini membuat anak-anak yang semestinya masih dalam pengawasan orang tua telah melampaui “mengenal dunia”. Yang semestinya tayangan dan tontonan televisi mendidik mereka sekarang bahkan hampir tidak ada tayangan yang dapat mereka tonton. Seluruh tayangan telah mengabaikan jam-jam tayang yang semestinya hanya dapat menayangkan adegan-adegan yang mendidik. Seluruh adegan perkelahian dan yang tak patutnya ditayangkan serta tak mendidik kini dengan leluasa dapat kita temui setiap harinya di layar kaca pertelevisian tanah air.

Disamping pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya, pengawasan pendidik di lingkungan sekolah juga harus dipertanyakan. Pada kasus diatas menurut berita yang saya ikuti penganiayaan terhadap korban dilakukan di lingkungan sekolah. Pendidikan moral dan agama juga harus semakin giat diterapkan. Tidak hanya itu, menjadi tanggung jawab kita semua untuk terus melindungi dan memberi contoh teladan dan perilaku yang baik kepada anak-anak karena saat-saat usia tersebut mereka melakukan tindakan atau perbuatan seperti apa yang mereka lihat/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s